HORIZONNEWS.ID — Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat PT BYD Motor Indonesia telah mengimpor 94.798 unit kendaraan dari China sejak 2024. Angka itu mencakup model Denza D9, Atto 3, Seal, Dolphin, M6, Sealion 07, hingga Atto 1.
Puncak impor terjadi pada 2025 dengan 74.513 unit dari delapan model. Atto 1 mendominasi dengan 30.060 unit, disusul M6 17.290 unit dan Sealion 07 sebanyak 12.700 unit.
Sepanjang Januari–Juli 2026, jumlah impor jatuh drastis. Hanya 3.518 unit masuk, terdiri dari Denza D9 (2.982 unit) dan Atto 3 (536 unit).
Insentif CBU Mengerek Volume, Kini Berakhir
Lonjakan impor pada 2024–2025 tidak lepas dari kebijakan pembebasan bea masuk kendaraan listrik CBU. Regulasi No. 6 Tahun 2023 jo No. 1 Tahun 2024 membuka keran itu bagi produsen yang menandatangani surat komitmen investasi.
Syaratnya tegas: penerima insentif wajib membangun fasilitas produksi dan merakit kendaraan listrik di dalam negeri. Selama pabrik belum berdiri, mobil utuh bisa dijual bebas bea masuk dengan konsekuensi memenuhi kewajiban produksi lokal setara kemudian.
Insentif ini berhenti akhir 2025, bertepatan dengan tenggat kewajiban tersebut yang jatuh pada 2026. Imbasnya langsung terlihat pada pola impor, yang memuncak selama masa insentif lalu tertekan setelah berakhir.
Pabrik Subang Mengubah Strategi Distribusi
Peresmian pabrik Subang pekan ini menjadi titik balik bagi BYD Indonesia. Fasilitas itu menandai peralihan dari skema impor CBU ke produksi dalam negeri, sekaligus menjawab komitmen investasi yang disepakati sebelumnya.
Fase impor 2024 menjadi periode pembuka kehadiran BYD secara masif dengan total 16.767 unit. M6 mencatat volume tertinggi di tahun itu dengan 6.248 unit, menyusul Seal 5.312 unit dan Atto 3 sebanyak 4.012 unit.
Dengan pabrik Subang beroperasi, pasokan kendaraan listrik ke pasar domestik selanjutnya akan bertumpu pada hasil produksi lokal. Ini mengurangi ketergantungan pada rantai pasok dari China dan memperpendek waktu distribusi ke diler di berbagai wilayah.